Sabtu, 01 April 2017

Laporan Biokimia Gizi - Komponen Darah






DISUSUN OLEH :
1.   D. Yumna Khoerunnisa   (P1337431216005)
2.   Sherly Niapunowisari      (P1337431216006)
3.   Safira Arsy Sahara           (P1337431216019)


PRODI D IV GIZI REGULER A
POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2016 / 2017


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Tujuan
-          Mengetahui komponen-komponen dalam darah
-          Mengetahui cara memisahkan plasma darah dan endapan darah
-          Mengetahui cara memisahkan fibrin dengan serum
-          Mengetahui kadar hemoglobin dalam darah dengan metode sahli

B.     Prinsip Praktikum
Darah dipisahkan menjadi dua bagian yaitu plasma darah dan endapan darah, plasma darah yang didapat ditambahkan dengan NaCl 0,9% dan CaCl 20% kemudian disaring sehingga terbentuklah filtrat yang merupakan serum darah.
Hemoglobin dengan penambahan HCL 0,1N akan dirubah menjadi hematin asam (hemin) yang berwarna tengguli (coklat). Warna yang terjadi diencerkan dengan aquadest sampai menyamai warna standar.

C.    Landasan Teori
      Darah adalah suatu cairan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang berwarna merah. Darah berfungsi sebagai alat pengangkut yaitu mengambil oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh, mengangkut karbondioksida dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru, mengambil zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan dibagikan ke seluruh jaringan tubuh, mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal, sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit, menyebarkan panas ke seluruh tubuh (Syaifuddin, 2006).
Darah Manusia terdiri dari dua komponen utama yakni plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah merupakan bagian yang cair Terdiri dari serum dan fibrinogen. Sementara sel-sel darah adalah bagian yang padat, hal ini di karena kan sel-sel darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan keping-keping darah.
Plasma darah adalah cairan yang berwarna Kuning Jernih, pada plasma darah terkandung 90% air serta larutan bermacam-macam zat sejumlah 7 sampai 10%. zat-zat yang terkandung dalam plasma darah terdiri atas, sari makanan, hormon, enzim, mineral, antibodi serta zat-zat sisa (contohnya karbon dioksida dan sisa pembongkaran protein). sisa makanan tersebut di serap oleh usus halus. Mineral yang berada di dalam plasma darah terdapat dalam bentuk garam mineral. Adapun fungsi garam-garam mineral adalah untuk mengatur tekanan osmotik dan pH darah. Protein yang terdapat dalam darah atau protein darah terdiri dari albumin, globulin dan fibrinogen. 
Apabila larutan protein yang berada di dalam plasma darah di endapkan dengan sentrifuge (alat pemutar), akan tertinggal cairan berwarna kuning jernih yang disebut serum.  Serum mengandung antibodi yang dapat melawan zat/benda asing atau kuman yang masuk ke dalam tubuh. Zat asing yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen. Antibodi yang dapat menggumpal kan antigen disebut presipitin, yang dapat menguraikan antigen disebut lisin, dan yang dapat menawarkan racun di sebutan titoksin.
Sel darah merah atau yang di kenal juga dengan eritrosit memiliki bentuk bulat pipih bagian tengahnya cekung (bikonkaf) dan tidak berinti.eritrosit berwarna merah di karenakan mengandung hemoglobin. Hemoglobin merupakan senyawa protein yang mengandung zat besi.sel darah merah di bentuk di dalam sumsum merah tulang pipih. selanjutnya, darah beredar keseluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah. Usia sel darah merah kurang lebih 120 hari. Eritrosit atau sel darah merah yang sudah tua akan di bongkar oleh hari dan limpa. Di dalam hati, hemoglobin di ubah menjadi zat warna empedu atau yang di kenal dengan bilirubin, yang kemudian di tampung dalam kantong empedu. Bilirubin ini berfungsi sebagai pemberi warna pada fases. Zat besi yang terdapat pada hemoglobin kemudian dilepas dan digunakan untuk membentuk sel darah merah baru.Fungsi utama dari sel darah merah adalah mengikat oksigen dan karbon dioksida. Bagian sel darah merah yang sangat berperan dalam mengikat oksigen adalah hemoglobin.
Sel darah putih atau yang di kenal dengan nama leukosit, sel darah putih memiliki inti akan tetapi tidak memiliki bentuk sel yang tetap dan tidak berwarna. Leukosit dalam milimeter kubik darah lebih kurang berjumblah 8.000. tempat pembentukan sel darah putih adalah pada sumsum merah tulang pipih, limpa dan kelenjar getah bening. semua sel darah putih memiliki masa hidup antara 6 hingga 8 hari. Umumnya sel darah putih berukuran lebih besar dari pada sel darah merah, bentuk amoeboid atau tidak beraturan, dan berinti sel bulat atau cekung, jenis sel darah putih yang terbanyak di dalam tubuh adalah neutrofil, yakni sekitar 60%. Neutrofil berfungsi untuk menyerang dan mematikan bakteri penyebab penyakit yang masuk ke dalam tubuh, dengan cara menyelubunginya dan melepaskan suatu zat yang mematikan bakteri.


D.    Alat dan Bahan

·         Pemisahan Serum Darah
-       Alat:
1.      Jarum suntik
2.      Tabung reaksi
3.      Sentrifuge
4.      Pipet tetes
5.      Gelas ukur
6.      Kertas saring
7.      Corong
8.      Beker glass

-       Bahan:
1.      Darah
2.      30 ml NaCL 0,9%
3.      2 tetes CaCl 20%

·         Penetapan Kadar Hemoglobin
-       Alat:
1.      Tabung reaksi
2.      Haemometer
-       Standart warna
-       Pipet Sahli
-       Batang pengaduk
-       Tabung Hb
-       Pipet tetes

-       Bahan:
1.      Sampel darah
2.      Larutan NaCl 0,9 % 30 ml
3.     Larutan CaCl 20 % 2 tetes



E.        Prosedur Kerja

·         Pemisahan Serum Darah
1.      Ambil sampel darah dengan jarum suntik.
2.      Masukkan ke dalam tabung reaksi.
3.      Darah disentrifuge selama 10-15 menit dengan kecepatan 5rpm. Peletakan tabung reaksi pada sentrifuge berhadap-hadapan dengan tabung reaksi yang sama besar dan jumlah larutan sama banyak.
4.      Darah yang telah disentrifuge akan terlihat lapisan atas berwarna bening yang merupakan plasma darah dan bagian bawah merupakan endapan darah atau sel darah.
5.      Ambil 2 ml plasma, encerkan dengan menambahkan 30 ml NaCl 0,9% dan 2 tetes CaCl 20% maka akan terjadi endapan gel.
6.      Saring larutan tadi dengan kertas saring. Saring filtrat adalah serum endapan atau serum darah.

·         Penetapan Kadar Hemoglobin
1.      HCl 0,1 N dimasukkan ke dalam Hb sampai skala 2.
2.      Darah dihisap sebanyak 20µl, dibersihkan ujung luar pipet, lalu dimasukkan ke dalam tabung Hb yang telah berisi larutan HCl 0,1 N.
3.      Aduk darah dan HCl 0,1 N dengan batang pengaduk agar homogen supaya terjadi hematin asam yang berwarna coklat tua.
4.      Masukkan tabung Hb ke kotak standart warna, tambahkan setetes demi setetes aquades sampai warna sampel pada tabung Hb sama dengan standart warna. Setiap kali penambahan aquades harus diaduk agar homogeny.
5.      Kadar Hb dibaca dalam satuan gram/dl.
Nilai normal: Pria 14-16 gr/dl
Wanita 12-14 gr/dl






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hasil pengamatan
·         Pemisahan Serum Darah
No
PERLAKUAN

HASILPENGAMATAN
1.
Pemisahan plasma dan endapan darah :
Darah di sentrifuge selama 10-15menit
·         Terjadi pemisahan komponen darah yaitu plasma dengan endapan darah
·         Lapisan berwarna bening kekuningan yang berada di bagian atas merupakan plasma darah
·         Gumpalan merah yang berada di bagian bawah merupakan endapan darah
2.
Pemisahan fibrin dan serum :
·         2 ml plasma
·         30 ml NaCl 0,9%
·         2 tetesCaCl 20%
Akan terjadi endapan,  kemudian disaring dengan kertas saring
Filtrat : serum   
Endapan : fibrin

·         Penetapan Kadar Hemoglobin

NO
NAMA
JENIS KELAMIN
KADAR Hb(gr/dl)
Kel.4
Kel.5
Kel.6
Kel.10
Kel.11
Kel.12
1.
Dwi nurhidayani
Perempuan


8,2

8,4
10
2.
Nur Amalia F
Perempuan
10,8
10,6

10,4


Tabel hasil pengamatan kadar Hb dalam darah


B.     Pembahasan

·         Pemisahan Serum Darah
1.      Pemisahan Plasma dan Packed Cell
Plasma adalah cairan darah ( 55 % ) sebagian besar terdiri dari air (95%), 7% protein, 1% nutrien. Didalam plasma terdapat sel-sel darah dan lempingan darah, albumin dan gamma globulin yang berguna untuk mempertahankan tekanan osmotik koloid, dan gamma globulin juga mengandung antibodi ( imunoglobulin ) seperti IgM, IgG, IgA, IgD, IgE untuk mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme. Didalam plasma juga terdapat zat/faktor-faktor pembeku darah, komplemen, haptoglobin, transferin, feritin, seruloplasmin, kinina, enzym, polipeptida, glukosa, asam amino, lipida, berbagai mineral, dan metabolit, hormon dan vitamin-vitamin.
Packet Red Cell / PRC, Jenis darah ini adalah paket sel darah merah yang sudah dipisahkan dari sebagian plasma darah atau disebut juga sel darah merah pekat. PRC mempunyai masa simpan 2 minggu bila pemisahan komponen dilakukan secara tertutup. Pemisahan plasma dengan Packed Cell dilakukan dengan dipusing dengan sentrifuge. Perbedaan berat jenis plasma (plasma mengandung 95% air, sehingga berat jenisnya akan lebih kecil dibandingkan endapan merah)  dan packed cell akan menyebabkan pemisahan cairan berwarna kuning dan endapan merah yaitu packed cell. Perbedaan plasma dengan serum adalah, ada tidaknya fibrinogen.Pada serum tidak terdapat fibrinogen yang berperan dalam pembekuan darah.

2.      Pemisahan Fibrin dengan Serum
Pemisahan fibrin dengan serum, dilakukan dengan mengambil 2 ml plasma, kemudian ditambah 30 ml NaCl 0,9% dan 2 tetes CaCl 20%. Setelah terjadi endapan gel, kemudian disaring.Filtratnya adalah serum yang berwarna kuning bening, dan endapannya adalah fibrin.
Serum merupakan plasma darah tanpa fibrinogen, sehingga komposisi serum sama dengan plasma darah. Di dalam serum terdapat albumin dan globulin.Globulin sangat penting untuk tekanan osmotic darah dan mengandung antibodi. Fibrinogen adalah asam amino yang sangat penting untuk pembekuan darah, karena fibrinogen berperan dalam hal tersebut, maka fibrinogen akan dengan cepat membentuk gel-gel.

·         Penetapan Kadar Hemoglobin
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan beberapa kelompok, dapat dilihat bahwa kadar hemoglobin sampel darah Dwi Nurhidayani dan Nur Amalia F rata-rata masih berada di bawah kadar normal. Kadar normal Hb dalam darah adalah 12gram/dl sedangkan rerata kadar Hb sampel darah Dwi Nurhidayani adalah sebesar 8,86, sementara rerata kadar Hb sampel darah Nur Amalia F adalah sebesar 10,6. Hal ini menunjukkan bahwa kadar Hb kedua sampel tersebut masih jauh di bawah kadar normal.
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kondisi tubuh  relawan yang menjadi sampel praktikum saat pengambilan darah dilakukan, atau pembacaan skala yang sangat tergantung pada penglihatan praktikan karena penelitian ini bersifat kualitatif. Pada saat menyamakan warna dengan batang standar, praktikan dapat melakukan kesalahan seperti terlalu banyak menambahkan aquades atau terlalu sedikit menambahkan aquades, sehingga pada saat praktikan membaca penetapan angka kadar hemoglobin kurang akurat.




BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Komponen darah terbagi menjadi 2 bagian yaitu plasma dan endapan darah. Bagian yang berwarna  bening adalah plasma darah sedangkan bagian yang mengendap berwarna merah adalah endapan darah. Plasma darah terbagi menjadi 2 bagian yaitu serum dan fibrin, saat  pemisahan serum merupakan filtrat dan fibrin merupakan endapan.
Penetapan kadar hemoglobin adalah cara yang dilakukan untuk mengetahui kadar hemoglobin yang dimiliki oleh seseorang untuk di mengetahui apakah kadar hemoglobin seseorang dalam keadaan  normal atau tidak. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin seseorang diantaranya kondisi tubuh dan jenis kelamin seseorang. Metode yang di gunakan dalam praktikum kali ini adalah metode sahli, karena metode ini merupakan metode yang paling sederhana. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan oleh kelompok 5 didapatkan hasil bahwa kadar hemoglobin dari sampel tersebut tidak normal yaitu dibawah angka normal.

B.     Saran
-          Ketika menggunakan sentrifuge, tabung reaksi yang diletakkan dalam sentrifuge minimal terdapat dua tabung reaksi dengan volume yang sama dan diletakkan saling berhadap-hadapan agar ketika dipusingkan tabung reaksi tidak pecah karena putaran dengan kecepatan yang tinggi.
-          Telitilah ketika menyamakan warna sampel dengan warna standar hemoglobin dan ketika membaca skala agar hasil lebih akurat.



DAFTAR PUSTAKA

Amri, Azalista. 2013. Laporan Pemeriksaan Darah.Diakses pada 19 Maret 2017.

Fakhriana, Melda. 2014. Laporan  Komponen Darah.Diunduh pada 19 Maret 2017.
Situs web :http://meldafakhriana.blogspot.co.id/2014/01/biokimia-gizi-komponen darah.html


















Minggu, 19 Maret 2017

Makalah Defisiensi Zat Gizi pada Anak Sekolah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Gizi berasal dari bahasa Arab yaitu algizzai yang artinya sari pati makanan. Asupan gizi pada anak sekolah dasar di beberapa wilayah di Indonesia sangat memprihatinkan, padahal asupan gizi yang baik setiap harinya dibutuhkan supaya mereka memiliki pertumbuhan, kesehatan dan kemampuan intelektual yang lebih baik sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul dan dapat mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional. Pada dasarnya asupan gizi yang diterima pada anak-anak sekolah dasar masih menunjukkan kurang menerima asupan gizi yang baik untuk perkembangan tubuh dan intelektualitas yang tinggi, oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah, masyarakat terutama keluarga untuk dapat memberikan asupan gizi yang cukup untuk pekembangan dan pertumbuhan anak.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang menyebabkan anak sekolah kekurangan gizi?
2.      Bagaimana cara menghindari kekurangan gizi pada anak?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui penyebab anak kekurangan gizi.
2.      Untuk mengetahui cara mencegah kekurngan gizi pada anak.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Mahasiswa dapat mengetahui defisiensi gizi pada anak usia sekolah.
2.      Pembaca dapat meningkatka kualitas hidup dengan kesadaran akan pentingnya zat gizi pada tubuh manusia.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tinjauan Pustaka
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat keadaan gizi normal tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Tingkat gizi seseorang dalam suatu masa bukan saja ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa lampau, bahkan jauh sebelum masa itu (Budiyanto, 2002).
Menurut Almatsier (2016) zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun, dan memelihara jaringan serta mengatur proses-proses kehidupan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa gizi adalah substansi dari makanan yang diperlukan oleh organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, dan pemeliharaan kesehatan. Zat gizi dapat dibagi menjadi zat gizi organik dan zat gizi anorganik. Zat gizi organik terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Sedangkan zat gizi anorganik terdiri dari mineral dan air. Zat gizi berdasarkan sumbernya terbagi menjadi dua, yaitu :
-          Nabati : sumber zat gizi yang berasal dari tumbuhan.
-          Hewani : sumber zat gizi yang berasal dari hewan.
Gizi yang diperoleh seorang anak melalui konsumsi makanan setiap hari berperan besar untuk kehidupan anak tersebut. Untuk dapat memenuhi dengan baik dan cukup, ternyata ada beberapa masalah yang berkaitan dengan konsumsi zat gizi untuk anak. Contoh masalah gizi masyarakat mencakup berbagai defisiensi zat gizi atau zat makanan. Seorang anak yang mengalami defisiensi zat gizi akan berakibat pada berbagai aspek fisik maupun mental.
B.     Pembahasan/ Hasil Penelitian
Nutrisi yang baik untuk perkembangan anak sekolah adalah nutrisi yang seimbang dan kebutuhannya tercukupi. Hal ini sesuai dengan pendapat Dr. Soegeng Santoso, M.Pd (1995) bahwa kualitas makanan yang diberikan kepada anak harus bergizi, sebab dapat memengaruhi kesehatan. Nutrisi yang cukup akan memberikan dampak yang positif bagi kesehatan anak. Apabila kebutuhan nutrisi terpenuhi anak dapat tumbuh dan berkembang dengan normal sehingga ia mampu belajar dengan baik.
Nutrisi dapat diperoleh dari makanan sehari – hari yang dipilih dengan baik. Sebaliknya, bila makanan tidak dipilih dengan  baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat - zat gizi esensial tertentu. Zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus didatangkan dari luar tubuh (makanan).
Kasus rendahnya asupan gizi anak-anak sekolah dasar di beberapa wilayah Indonesia merupakan permasalahan yang sangat serius. Jika tidak ditanggapi dengan serius oleh pemerintah maka akan menimbulkan dampak-dampak yang semakin memperburuk status gizi dan status kesehatan anak-anak sekolah dasar. Anak-anak sekolah dasar memiliki pertumbuhan yang relatif stabil jika dibandingkan dengan usia bayi, pra-sekolah dan remaja. Pada masa ini terjadi proses kematangan, pertambahan fungsi kognitif dan sosial emosional. Asupan gizi yang baik sangat dibutuhkan pada anak usia sekolah (6-12 tahun) karena mereka memerlukan energi dan kalori yang cukup besar untuk beraktifitas selama di sekolah. Mereka memerlukan karbohidrat,  protein, lemak, vitamin-vitamin, zat besi, zat seng dan mineral-menaral lain yang dibutuhkan oleh tubuh untuk proses pertumbuhan.
Sarapan pagi dengan asupan gizi yang baik sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan energi dan kalori. Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, terdapat beberapa faktor yang berperan dalam menentukan tumbuh kembang anak seperti dalam hal pola makan anak. Pada anak usia sekolah, faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan pola makan mereka adalah faktor di luar rumah yaitu lingkungan masyarakat dan teman sekolah. Lingkungan masyarakat yang memiliki kebiasaan buruk dalam hal mengkonsumsi makanan atau jajanan akan ditiru oleh anak pada usia ini. Ketika teman di sekitar rumahnya atau teman sekolahnya sering mengkonsumsi suatu makanan atau jajanan maka  anak akan mengikuti makanan atau jajanan yang dipilih oleh teman-teman di sekitarnya. Dampak yang dikhawatirkan adalah ketika temannya memilih makanan yang buruk atau rendah asupan gizinya. Dalam ilmu teori perilaku-perilaku kesehatan, Skinner mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi 6 kelas. Perilaku anak usia sekolah yang meniru makanan atau jajanan temannya termasuk dalam perilaku yang berhubungan dengan lingkungan (Environmental behavior).
Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi nutrisi pada anak sekolah, seperti:
-            Usia
Usia anak sekolah merupakan usia dimana kesehatan  yang optimal akan menghasilkan pertumbuhan  yang optimal pula. Perhatian terhadap kesehatan sangatlah diperlukan, pendidikan juga digalakan untuk perkembangan mental yang mengacu pada keterampilan anak.

-          Aktifitas
Semakin tinggi tingkat aktifitas tubuh maka nutrisi dan energi yang dibutuhkan juga semakin banyak, anak usia sekolah merupakan usia yang senang bermain. Senang menghabiskan waktunya untuk belajar mengetahui lingkungan sekitar. Oleh sebab itu perlunya nutrisi dan asupan energi yang banyak untuk menunjang aktifitas fisiknya.
-          Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi juga berpengaruh dalam pemenuhan nutrisi bagi seorang anak. Seorang anak yang berada dalam kondisi kurang mampu biasanya akan kesulitan dalam  memenuhi kebutuhan nutrisinya karena harga bahan makanan yang kadang cenderung mahal.
-          Selera Makan
Anak usia sekolah sangat sulit untuk dapat m engonsumsi makanan – makanan yang sedang ia perlukan dalam masa pertumbuhan. Kriteria makanan  yang banyak disukai oleh anak usia ini adalah makanan yang banyak mengandung gula dan mempunyai warna yang cerah.
Pola makan anak harus diatur dengan baik, sebab  seorang anak yang sehat dan normal membutuhkan asupan cairan harian sebanyak 1–1,5 liter per hari. Keluarga hendaknya menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Status gizi anak dapat ditentukan oleh tingkat konsumsi atau kualitas makanan.
Masalah gizi kurang tersebar luas di negara – negara berkembang, termasuk Indonesia. Anak usa sekolah membutuhkan asupan gizi yang baik agar kelak dapat menjadi generasi penerus yang unggul. Pada sisi lain, masalah gizi lebih yang merupakan dampak dari keberhasilan di bidang ekonomi juga mulai terlihat di Indonesia. Banyak ditemukan anak usia sekolah yang overweight atau obesitas.
Seorang anak yang mengalami defisiensi zat gizi akan berpengaruh pada berbagai aspek fisik maupun mental. Masalah ini dapat ditanggulangi secara tepat, jangka pendek, dan jangka panjang serta dapat dicegah oleh masyarakat sendiri sesuai dengan klasifikasi dampak defisiensi zat gizi, antara lain melalui pengaturan makan yang benar.
Di Indonesia sendiri, permasalahan gizi masih  harus difokuskan pada pemenuhan  zat gizi yang mana masih ditemukan kondisi defisiensinya, seperti kekurangan protein, zat besi, kalsium,yodium, seng, asam folat, serta vitamin A dan D. Dalam kasus ini, pengetahuan lokal terkait masalah gizi sangat diperlukan bagi masyarakat Indonesia.



Ada beberapa dampak yang disebabkan oleh defisiensi zat gizi, seperti :
a.         Malnutrisi (gizi salah).
Malnutrisi adalah keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relative maupun absolute satu atau lebih zat gizi.
Ada empat bentuk malnutrisi yaitu :
-                     Under nutrition yaitu kekurangan konsumsi pangan secara relative maupun absolute pada periode tertentu.
-                     Specific deficiency yaitu kekurangan zat gizi tertentu, misalnya kekurangan vitamin A, yodium, Fe, dan lain-lain.
-                     Over nutrition yaitu kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu.
-                     Imbalance yaitu karena disproporsi zat gizi, misalnya kolesterol terjadi karena tidak seimbangnya LDL (Low Density Lipoprotein), HDL (High Density Lipoprotein), dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein).
b.         KEP (Kekurangan Energi Protein).
Kurang energi protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam konsumsi sehari-hari dan atau gangguan penyakit tertentu. Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS. KEP merupakan defisiensi zat gizi yang paling berat dan meluas terutama pada balita dan anak-anak. Pada umumnya penderita KEP berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
c.         GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium)
GAKI adalah sekumpulan gejala atau kelainan yang ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan iodium secara terus-menerus dalam waktu yang lama yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan manusia.
d.        Anemia Zat Besi
Anemia gizi pada balita dan anak akan berdampak pada peningkatan kesakitan dan kematian, perkembangan otak, fisik, motorik, mental dan kecerdasan juga terhambat, daya tangkap belajar menurun dan interaksi sosial berkurang. Anak yang sejak balita mengalami anemia ini tak bisa diobati lagi. Sedangkan bagi anak yang terkena pada usia sekolah, masih bisa diobati dengan memberikan suplemen zat besi. Prinsipnya, harus ada perubahan pola makan yang sehat.
e.         KVA (Kekurangan Vitamin A)
Kekurangan vitamin A menyebabkan kebutaan pada orang dewasa dan meningkatkan resiko kematian pada bayi. Anak-anak yang memiliki kekurangan vitamin A lebih rentan penyakit seperti diare, campak, dan infeksi pernapasan yang serius, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Ada berbagai cara untuk menanggulangi permasalahan gizi buruk, misalnya dengan memberikan ASI eksklusif ketika bayi, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, meningkatkan   asupan  kalori, serta menjaga pola makan yang sehat. Sekolah juga sebaiknya mengadakan program makan siang dengan membawa bekal dari rumah, sehingga siswa tidak perlu membeli makanan dari luar yang belum tentu sehat.
Pada kasus anak yang sudah menderita gizi buruk dapat ditangani dengan perbaikan gizi apabila statusnya berada pada stadium ringan. Sedangkan pada stadium berat cenderungg lebih kompleks karena masing – masing penyakit yang menyertai harus diobati satu per satu. Penderita pun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun infeksinya, status gizi anak tersebut harus diperbaiki hingga sembuh.
Pada usia ini, anak – anak mudah bosan terhadap sesuatu, mereka lebih menyukai hal – hal baru. Asupan nutrisi yang cukup dapat menunjang aktifitasnya selama di dalam maupun di luar sekolah, selain itu makanan yang disajikan juga harus menarik dan bervariasi supaya selera makan mereka meningkat.
 Asupan  gizi yang buruk dapat berakibat fatal apabila dibiarkan. Selain itu, buruknya status gizi anak sekolah semakin  memperburuk kondisi bangsa Indonesia karena generasi penerusnya tidak produktif. Perbaikan status gizi dengan asupan gizi yang baik akan memberikan banyak perubahan. Membiasakan anak sarapan  sebelum  berangkat sekolah merupakan cara yang efektif dalam mengurangi kemungkinan untuk anak membeli makanan di luar rumah yang mungkin tidak sehat.
 Selain  peran orang tua, peran guru di sekolah juga sangat dibutuhkan guna memberikan pendidikan dasar dan pengawasan secara aktif mengenai makanan yang baik dikonsumsi dan tidak baik dikonsumsi.




BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Gizi merupakan bagian dari proses kehidupan dan proses tumbuh kembang seorang anak, sehingga pemenuhan gizi turut menentukan kualitas tumbuh kembang sebagai sumber manusia di masa mendatang. Defisiensi gizi adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berpikir, dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Adapun faktor penyebab terjadinya defisiensi adalah usia, faktor ekonomi, aktifitas, dan selera makan. dampak dari defisiensi zat gizi sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang secara keseluruhan seperti, gangguan fisik, mental, dan kecerdasannya. Adapun untuk mencegah terjadinya defisiensi zat gizi adalah dengan meningkatkan konsumsi gizi yang cukup dan seimbang.

B.     Kritik dan Saran
Sebaiknya utuk mengurangi tingginya masalah defisiensi zat gizi, pemerintah mengadakan program yang lebih efektif dan berkesinambungan, seperti meningkatkan upaya kesehatan ibu untuk mengurangi bayi dengan berat badan kurang, meningkatkan program gizi berbasis masyarakat, penyuluhan mengenai pengetahuan gizi kurang dan memperbaiki sektor lain yang terkait erat dengan gizi (air, sanitasi, dsb.) sehingga angka defisiensi gizi dapat berkurang.



DAFTAR PUSTAKA

            Almatsier, Sunita. 2016. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia.
            Nasution, Andi Hakim., dan Darwin Karyadi. 1991. Vitamin. Jakarta : Gramedia.
            Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.





LAMPIRAN











                                         

Sabtu, 28 Maret 2015

Resep Kue Nastar






Bahan utama kue nastar keju:
200 gram Mentega
2 butir kuning Telur
50 gram Gula halus
350 gram Tepung terigu
1 sdm Tepung maizena
1 sdm Susu bubuk full cream
1/4 sdt Vanili bubuk

Bahan Isi kue nastar keju :
Selai nanas

Bahan Olesan kue nastar keju :
1 butir kuning Telur 1 butir
Keju parut secukupnya


Cara Membuat kue nastar keju :
  1. Kocok telur, gula, mentega, hingga tercampur rata.
  2. Ayak tepung maizena, tepung terigu, vanili bubuk dan susu secara bersamaan
  3. Ambil adonan secukupnya, bentuk bulat dan isi dengan selai nanas.
  4. Siapkan loyang, olesi dengan margarin.
  5. Letakkan adonan kue ke loyang.
  6. Olesi dengan kuning telur dan taburi dengan keju parut.
  7. Panggang kue dengan suhu oven 175 derajat celcius. Tunggu sekitar 15 menit.
  8. Angkat, dinginkan dan masukkan dalam toples kedap udara.